Depan artikel asuransi 10 Mitos Tentang Asuransi Yang Ada di Indonesia

10 Mitos Tentang Asuransi Yang Ada di Indonesia

10 min read
0
0
119
10 mitos tentang asuransi

Kesadaran masyarakat Indonesia untuk mempunyai polis asuransi masih sangat rendah. Hal ini karena disebabkan adanya beberapa mitos mengenai kerugian atau ketidak leluasaan yang diperoleh saat bergabung di salah satu produk asuransi. Benarkah demikian?

Inilah pola pikir yang perlu diluruskan. Asuransi jiwa merupakan bagian terpenting dari perencanaan keuangan. Akan tetapi, salah kaprah mengenai pengertian asuransi jiwa dapat mencegah orang untuk mendapatkan manfaatnya. Nanti, saat terjadi masalah, mereka baru sadar mengapa dulu tidak segera memiliki polis asuransi. Supaya tidak terpengaruh isu atau pendapat orang mengenai asuransi jiwa yang keliru, ada baiknya mengenali dulu mitos-mitos seputar asuransi jiwa yang paling populer.

1. Anak muda dan lajang belum perlu asuransi
Faktanya : Sakit kritis, kecelakaan, meninggal dunia dan beberapa resiko lain tidak mengenal usia. Justru semakin cepat, atau semakin muda bergabung di program asuransi, nilai premi/tabarru’ yang dibayarkan sangat murah dengan manfaat Uang Pertanggungan (UP) yang sangat besar. Dana asuransi bisa menjamin biaya-biaya yang tak terduga saat terjadinya sebuah resiko.

Baca juga : 5 Orang Yang Tidak Perlu Ikut Asuransi

2. Hanya orang yang sudah mempunyai anak yang butuh asuransi
Menurut pendapat Michael Bonevento, senior financial advisor di Ameriprise Financial Services, Inc., mereka yang menikah dan menikah dengan anak, atau menikah dengan anak berkebutuhan khusus, mungkin punya kewajiban membeli asuransi. Meskipun begitu, ada banyak contoh dimana para lajang juga memiliki asuransi. Ketika si lajang datang dari keluarga yang kurang berada, ia bisa meninggalkan klaim asuransi untuk keluarganya bila terjadi masalah padanya. Jadi, ia mengambil asuransi untuk memastikan keluarganya tidak mengalami masalah keuangan saat ia sudah tak ada.

3. Jika perusahaan sudah memberikan asuransi, untuk apa lagi ambil asuransi?
Faktanya : Asuransi dari perusahaan biasanya hanya asuransi kesehatan yang tidak mengcover kematian, cacat & sakit kritis. Memang banyak perusahaan yang menyediakan asuransi jiwa atau asuransi kesehatan untuk karyawannya, tetapi perlu Anda ketahui nilainya hanya setara dengan gaji Anda setahun. Hal ini mungkin saja merupakan keuntungan bagi Anda, tetapi bagaimana jika Anda tak bekerja lagi di perusahaan tersebut? Bukankah Anda tak bisa meramal kapan Anda akan mengalami risiko-risiko yang mungkin bisa terjadi? Bagaimana jika mendadak Anda harus dirawat di rumah sakit? Sudah terlambat jika Anda baru memiliki keinginan ber-asuransi setelah pensiun, ketika Anda sudah membutuhkannya untuk mengantisipasi kerugian uang yang mungkin muncul akibat risiko itu.

4. Asuransi terlalu mahal
Faktanya : Hanya dgn 300rb/bln, Anda sudah mendapat manfaat proteksi kematian, kecelakaan, cacat, 49 penyakit kritis + investasi. Sangat murah jika dibandingkan membeli jajanan atau rokok 20rb/bungkus. Saat akan bergabung di asuransi, Anda akan diberi pilihan untuk biaya premi yang sesuai dengan kemampuan Anda. Premi yang dipilih orang yang masih muda tentu akan lebih rendah daripada orang yang sudah mapan. Selain itu, selain dibayar tahunan, ada pula premi yang bisa dibayar bulanan. Nilai premi ini bisa Anda tingkatkan ketika kondisi keuangan Anda semakin baik.

Baca juga : Apakah Ikut Asuransi Hanya Menambah Pengeluaran?

5. Uang yang telah disetor hangus tidak dapat diambil lagi.
Faktanya : Dalam asuransi syariah, dana tabarru’ (premi) yang dibayar itu dianggap dana hibah, sedekah, dana tolong menolong. Dan nilai manfaat yang didapatkan saat terjadi sebuah resiko sangat besar jika dibandingkan nilai premi yang sudah disetor.

6. Semua kebijakan asuransi sama
Namanya juga produk atau barang dagangan. Masing-masing pasti punya kelebihan dan kekurangan, yang diwujudkan dalam bentuk kebijakan. Kebijakan tersebut mungkin menggunakan istilah yang sama, namun substansi mengenai apa yang di-cover bisa berbeda. Jadi saat Anda mengambil sebuah produk asuransi, jangan sekedar mempertimbangkan harganya saja. Bacalah baik-baik kebijakan yang diberikan agar Anda tidak merasa ditipu belakangan.

7. Ibu rumah tangga tidak perlu membeli asuransi
Faktanya : Seorang ibu juga manusia yg tak luput dari penyakit. Sayang bukan jika harta yg susah payah dikumpulkan suami bertahun-tahun harus diserahkan kerumah sakit utk biaya perobatan istri? Seorang istri mungkin tidak memiliki penghasilan, tetapi jika terjadi sesuatu dengan sang istri tentunya suami harus mengeluarkan biaya ekstra, misalnya: biaya baby sitter, sopir antar jemput untuk anak sekolah, dll. Bukan hanya itu jam kerja suami juga akan terganggu karena adanya kewajiban suami untuk menggantikan posisi istri dalam mendidik dan mengawasi anak-anak. Hal ini tentunya akan mengakibatkan pendapatan suami juga akan berkurang.

8. Ambil polis asuransi itu rumit
Memang dibutuhkan waktu untuk memproses sebuah polis Asuransi, termasuk persetujuan permintaan asuransi yang Anda ajukan. Namun saat ini financial planner alias agen asuransi sudah menerapkan jemput bola. Artinya, merekalah yang mendatangi Anda dan mengurus segala sesuatunya. Bila kurang jelas dengan hak-hak dan kewajiban Anda, Anda juga bisa mengaksesnya sendiri di website. Anda juga bisa membandingkan sendiri dengan produk asuransi lainnya. Jika masih kurang jelas, Anda bisa menjadwalkan pertemuan lagi dengan agen Anda.

9. Perusahaan Asuransi tidak membayar klaim
Faktanya : Anda pasti sering lihat di surat kabar kalau perusahaan tertentu membayarkan klaim beberapa nasabah sekaligus diwaktu yang bersamaan. Banyak orang yang tidak paham dengan produk asuransi yang di ambil itu meng-cover apa saja. Ini kesalahan nasabah dan agen yang tidak kritis terhadap isi polis. Selain itu, nasabah tidak menginformasikan soal polis asuransi kepada ahli warisnya.

Baca juga : Cara Klaim Asuransi, Lengkapi Dokumen Dahulu

10. Agen asuransi mempunyai kepentingan untuk mendapatkan untung
Faktanya : 5 tahun pertama dalam sebuah sistem asuransi sebagian besar mengambil beberapa persen dari nilai premi yang dibayarkan biaya akuisisi, termasuk di dalamnya komisi agen. Bukan berarti agen asuransi hanya mencari keuntungan pribadi. Agen asuransi itu juga bekerja yang akan membantu Anda saat ada pengajuan klaim atau melayani pertanyaan tentang produk yang diambil. Seorang Agen asuransi yang baik juga akan membantu proses administrasi di tengah masa berlaku polis, contohnya pengalihan ahli waris, penggantian alamat kirim, atau penggantian jenis produk asuransi yang ingin diikuti.

Baca juga : Menjadi seorang agen asuransi syariah Allianz

Dari 10 mitos tentang asuransi diatas sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat Indonesia khususnya dalam mengambil sebuah keputusan untuk ikut dalam program asuransi.
Tugas kami sebagai Free Financial Consultant Asuransi Syariah dari Allianz adalah “Open Mindset” tentang pentingnya memiliki sebuah polis Asuransi Syariah.

Untuk permohonan illustrasi asuransi klik disini

Facebook Comments
Artikel Selanjutnya
Load More In artikel asuransi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Menghilangkan Karang Gigi, Mencegah dan Caranya

Menghilangkan karang gigi merupakan salah satu masalah yang hampir semua orang menginginka…